Tag Archives: imunosupresi

Pencegahan Gumboro pada Peternakan Ayam Broiler

Gumboro merupakan penyakit yang menyerang burs fabricii (kelenjar bulat yang terletak di atas kloaka), gumboro (Infectious Bursal Disease / IDB) pertama kali ditemukan di Deleware USA sekitar tahun 1950. Kejadian gumboro sering terjadi pada peralihan musim, kondisi lingkungan dan cuaca yang cepat berubah dapat meningkatkan cekaman pada anaka ayam. Penyebab gumboro tergolong sebagai reovirus yang lebih banyak berlokasi di bursa fabricii. Pada anak ayam berusia 1 – 12 hari tanda-tanda gumboro tidak begitu nampak. Tapi pada ayam berumur 3 – 6 minggu akan muncul gejala khas seperti ayam tampak lesu dan mengantuk, bulu mengerut, sekitar dubur dan perut bagian bawah kotor, kotoran encer, berlendir dan berwarna keputihan, tubuh ayam mengalami dehidrasi, ayam mematuki duburnya, bila sedang tidur paruhnya ditaruh dibawah.

Penyakit gumboro bersifat immunosupression atau imunosupresi yang dapat diartikan dimana respon tubuh ternak terhadap masuknya benda asing menjadi berkurang, atau dapat menjadi pemicu berbagai penyakit ke dalam tubuh ternak. Imunosupresi yang meneyrang ayam dapat menimbulkan 2 kerugian sekaligus, yaitu kerugian karena faktor imunosupresi itu sendiri dan karena agen penyakit lainnya menjadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh ayam. Dengan rusaknya bursa fabrisius oleh virus gumboro, menyebabkan antibodi yang dihasilkan organ tersebut akan berkurang. Akibatnya, ayam yang sudah terserang gumboro akan mudah terserang infeksi sekunder dan terjadi penurunan respon antibodi terhadap berbagai program vaksinasi.

Usaha untuk melakukan pencegahan gumboro adalah mengoptimalkan persiapan kandang dengan baik dan benar. Dimulai dengan pengeluaran litter dan kotoran ayam secara sempurna karena merupakan agen virus gumboro. Lakukan pembersihan semak dan rumput yang ada di lokasi peternakan secara teratur, jangan biarkan ada tumpukkan kotoran maupun litter di sekitar kandang. Kemudian kandang di desinfeksi agar membunuh sisa virus gumboro yang tertinggal. Hal tak kalah penting adalah program vaksinansi yang bertahap dan teratur, karena kurang optimalnya vaksinasi akan membuat virus timbul kembali. Dan yang terakhir adalah jangan melakukan hal yang bisa membuat ayam stres, dalam hal ini adanya perlakuan baru yang akan membuat ayam melakukan adaptasi.

Penyakit Akibat Imunosupresi

Gangguan pada sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh beberapa faktor yang bersifat imunosupresi (faktor penekan respon kekebalan tubuh) mungkin menjadi suatu contoh yang paling representatif belakangan ini. Akibat bruruknya sistem kekebalan tubuh, maka akan muncul beragam kasus infeksius yang sangat bervariasi dan cenderung bersifat kompleks yang berulang-ulang. Sistem kekebalan atau imunitas merupakan suatu mekanisme yang digunakan dalam tubuh ayam sebagai pelindung terhadap bahaya yang timbul oleh pengaruh dari lingkungan sekitar. Ada beberapa faktor yang menekan fungsi sistem kekebalan tubuh ayam yang menyebabkan imunosupresif. Perkembangan organ limfoid yang sub optimal akan menyebabkan terjadinya imunosupresi.

Penyebab imunosupresif antara lain oleh stress intrinsik dan ekstrinsik, defisiensi dan ketidakseimbangan nutrisi, penyakit menular dan metabolit mikroorganisme. Imunosresif dapat dilihar dari respon terhadap vaksinasi yang tidak optimal, ayam peka terhadap berbagai infeksi, mudah sakit, respon pengobatan buruk, seolah obat tidak manjur, dan organ limfoid mengecil seperti thymus dan bursa fibricus. Sedangkan organ lain yang berfungsi dalam sistem kekebalan adalah limfa, lempeng peyer pada mukosa usus, tonsil sekalis, struktur limfoid sepanjang saluran pernafasan, kelenjar harder dan konjungtiva mata. sedangkan penyakit yang merusak struktur dan organ limfoid primer adalah gumboro, mareks, mikotoksikosis, infeksi reovirus, infeksi chicken anemia, dan infeksi ALVJ. Dan penyakit yang dapat merusak organ limfoid sekunder adalah Newcastle Disease, Avian Influenza, Swollen Head Syndrom, Infeksius Bronchitis, Infeksius, Laryngotracheitis, pox bentuk basah, aspergilosis, koksidiosis, kolera unggas, salmonellosis, helmintiasis, mikoplasmosis, snot, dan kolibasilosis.

Sudah menjadi peribahasa lama, bahwa pencegahan penyakit lebih baik dari pada pengobatan. Praktek pencegahan yang baik diilustrasikan seperti sebuah rantai sepeda yang bekerja dengan baik apabila kesulurhan bagiannya menyatu. Praktek pencegahan penyakit pada peternakan ayam dapat dibagi beberapa bagian antara lain : pencegahan stress ayam, manajemen pemliharaan yang baik, kualitas dan suplai air minum, test serologi, sanitasi, vaksinasi, pencegahan parasit, dan pengendalian polutan. Masalah imunosupresi yang berkaitan dengan upaya penanganan dan kontrol penyakit harus dapat diatasi dengan serius karena hal itu dapat mengganggu pengebalan dan konsep optimalisasi kesehatan ayam yang telah disusun dengan baik.