Tag Archives: penanggulangan gumboro

Menanggulangi Penyakit Gumboro pada Ayam

Gumboro perlu menjadi prioritas utama dalam beternak ayam broiler. Hal tersebut karena gumboro dapat mengakibatkan kerugian yang besar karena kematian yang tinggi, pertumbuhan yang kurang optimal dan efek imunosupresif akibat kasus penyakit gumboro. Penyakit gumboro (Infectious Bursal Disease/IDB) pertama kali ditemukan di Deleware USA sekitar tahun 1950, sampai saat ini masih sering muncul di lapangan. Sudah berbagai macam vaksin yang telah dikembangkan namun kejadian gumboro masih saja dijumpai. Terutama pada musim peralisan, kasus gumboro lebih banyak terjadi. Kondisil lingkungan yang cepat berubah meningkatkan cekaman pada ayam.

Kejadian gumboro biasanya terjadi pada ayam berumur 3–4 minggu. Namun kenyataan di daerah kasus bisa terjadi pada minggu-minggu awal kehidupan yaitu kurang dari usia 2 minggu. Ayam yang terserang virus IDB laju pertumbuhannya akan lambat dan FCR tinggi. Oleh karena itu, meminimalisir dan mengeliminasi faktor penyebab munculnya penyakit ini merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bukan hanya tanggung jawab peternak komersial, namun pembibit dan feedmil seharusnya juga mempunyai andil yang tidak kalah penting.

Perlu diperhatikan adalah kualitas DOC, untuk mendapatkan DOC yang sehat didapat dari telur tetas yang beratnya memenuhi syarat untuk ditetaskan dan berasal dari induk yang tidak terlalu muda ataupun tua, telur tetas bersih, tidak cacat dengan lingkungan kandang yang bersih dan proses penetasan yang baik dan benar. Jika lingkungan kotor dan telur yang ditetaskan pun demikian dikuatirkan embrio tercemar bakteri seperti E. Coli, Pseudomonas, dll, bisa menyebabkan peradangan pada kantong kuning telur. Maternal antibodi yang tinggi pada anak ayam didapat dari induk yang sehat dan divaksin secara teratur dan berkesinambungan. Vaksinasi IBD pada induk biasanya dilakukan sebelum masa produksi dan diulangi pada umur 40–45 minggu.

Pakan merupakan komponen biaya terbesar dari sebuah usaha peternakan. Dalam manajemen pakan hal yang harus diwaspadai adalah keseimbangan nutrisi dengan kadar mikotoksin yang mencemarinya. Kadar mikotoksin pada pakan perlu diperhatikan dalam pakan, karena akan berpengaruh sistem imunitas dan pertumbuhan tubuh ayam. Tingginya kadar mikotoksin berkaitan dengan proses pemanenan, pengeringan dan penyimpanan bahan baku, terutama yang berasal dari biji-bijian. Untuk meminimalisir jumlah mikotoksin perlu pencegahan tumbuhnya jamur dan pembentukkan metabolitnya.

Manajemen pemeliharaan berpengaruh terhadap keberhasilan suatu usaha peternakan. Untuk mendapatkan hasil yang baik, yang paling utama adalah menciptakan kondisi dan tempat yang nyaman untuk ayam. Proses pemeliharaan yang baik dan benar harus dilakukan sejak kedatangan anak ayam, masa brooding dan kehidupan selanjutnya. Masa brooding merupakan waktu yang cukup krusial bagi pertumbuhan dan perkembangan ayam, sehingga harus dilakukan dengan benar.

Kasus Gumboro terjadi karena kekebalan ayam tidak bisa mengatasi serbuan virus lapangan yang masuk ke tubuh ayam dan virus lapangan lebih cepat sampai di bursa dibanding virus vaksin yang diberikan. Hal ini bisa terjadi karena kondisi ayam yang tidak optimal karena stres (manajemen, lingkungan), titer antibodi induk yang rendah, jumlah virus lapangan yang terlalu banyak, strain virus vaksin yang dipakai tidak cocok dengan virus yang ada di lapangan, dan waktu pemberian vaksin yang tidak tepat.

Biosekuriti merupakan suatu usaha pengamanan biologik yang bertujuan untuk mencegah masuknya agen-agen patologik ke tubuh ayam. Lokasi farm yang tidak berdekatan dengan farm tetangga, hanya terdapat satu macam spesies unggas saja, adanya pagar sekeliling farm yang memisahkan farm dengan lingkungan sekitar, dan pola pemeliharaan all in all out, akan mengurangi resiko munculnya kasus penyakit infeksius.

Pemilihan vaksin yang cocok dengan virus di lapangan sangat penting. Pada saat ini ada macam-macam jenis vaksin di pasaran. Dari yang bersifat mild sampai yang intermediate plus.Hal yang tak kalah penting untuk meminimalisir kebocoran vaksinasi adalah penentuan waktu yang tepat kapan sebaiknya vaksinasi dilakukan. Untuk dapat menentukan waktu vaksinasi yang tepat, pengukuran maternal antibodi (MAB) terhadap IBD harus dilakukan. Karena pembibit tidak pernah memberitahukan titer antibodi dari induknya.

Penanggulangan Penyakit Gumboro

Nama lain dari penyakit gumboro adalah Infectious Bursal Disease (IDB), Avian nephrosis atau Avian Infectious Bursitis. Gumboro dapat menular akut pada ayam yang berusia 3 -4 minggu. Namun di daerah yang endemik kejadiannya pada minggu-minggu awal kehidupan yakni kurang dari umur 2 minggu. Ayam broiler yang terserang ditandai dengan peradangan berat bursa fabrisius dan bersifat immunosupresif yang merupakan lumpuhnya sistem pertahanan tubuh yang mengakibatkan turunnya respon ayam terhadap vaksinasi dan ayam-ayam menjadi lebih peka terhadap bakteri patogen lainnya. Penyakit gumboro dilaporkan paling sering menyerang ayam broiler dan ayam ras petelur, meskipun dapat juga menyerang ayam broiler.

Penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung antara ayam yang sakit dengan ayam yang sehat. Disamping itu hasil ekskresi (manure) yang mencemari peralatan dan lantai kandang. Kandang yang tercemar menjadi sumber penularan yang optimal, untuk itu ayam yang diketahui memiliki gejala gumboro harus segera dipisahkan dari koloninya. Ayam yang terserang biasanya ditandai dengan gejala depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak nafas, bulu-bulu meerinding dan kotor terutama bulu pada daerah dubur dan perut, selanjutnya akan terjadi mencret, feses berwarna putih kapur dan kematian yang terjadi akibat dehidrasi. Masa inkubasi penyakit ini belum diketahui secara jelas, sedangkan untuk infeksi percobaan inkubasi sangat pendek yakni 2-3 hari.

Untuk menanggulangi kejadian gumboro, yang pertama dilakukan peternak adalah harus memilih DOC yang baik, karena DOC yang memiliki kualitas jelek akan lebih rentan terhadap serangan penyakit dan memiliki pertumbuhan yang lambat, pakan juga harus dicermati, karena kadar mikotoksin yang tinggi pada pakan dapat berpengaruh pada ketahanan tubuh ayam, tingginya mikotoksin berkaitan dengan proses pemanenan, pengeringan, dan penyimpanan bahan baku pakan terutama biji-bijian. Untuk meminimalisir mikotoksin salah satunya adalah pengeringan hingga kadar air rendah, penambahan anti jamur pada saat penyimpanan, manajemen pemeliharaan sangat berpengaruh pada keberhasilan peternakan, untuk hasil yang baik dengan menciptakan kondisi yang nyaman bagi ayam agar terjaga dari stres lingkungan, kebutuhan ksigen harus dipenuhi, cemaran amonia yang minimal dan kualitas pakan yang baik, biosekuriti tidak hanya melakukan desinfeksi kandang dan lingkungan tetapi harus memperhatikan kondisi lingkungan sekitar seperti tata letak, lokasi farm, kandang dan bangunan kandang. Dengan melakukan hal-hal tersebut semoga peternakan anda selalu menghasilkan keuntungan yang maksimal.